Tanpa Tahun

Sajak Setumbu Nasi Sepanci Sayur

setumbu nasisepanci sayur kobisrenungan hari ini berjongkok di dapurangan terbuka seperti layar bioskopbising mesinbis kota merdeka berlaga di jalan rayabecak-becak berpeluh melawan jalan raya siapa pengatur jalan kakisiapa pemerintah kaki limabegitu patuh mereka diusir pergibegitu berani mereka datang kembali gemuruh kota menggaru benakku berjongkok di dapurkompor keringkayu tempat piring-piring gedung-gedung beranak pinak

Biji-Biji Karambol

tengah malam, dan suara jatuhbiji-biji karambol di tengah malam jatuhjatuh angka-angka satu sampai mati,mulai lagi satu jatuh dalam lingkaran lobang hitamsederhana sekali hadir begitu sajasatu jatuh satudalam lingkaran lobang hitamdi situ tiada ujungsebelum sempat menjerit tengah malambiji karambol gemetar ituberdebar-debar menebakkapan datang tangan itu menyentil tubuhnya ia tak tahutapi pastilingkaran hitam di pojok itugelap.malam terus …

Biji-Biji Karambol Selengkapnya »

Sajak Ibu

Sajak Ibu ibu pernah mengusirku minggat dari rumahtetapi menangis ketika aku susahibu tak bisa memejamkan matabila adikku tak bisa tidur karena laparibu akan marah besarbila kami merebut jatah makanyang bukan hak kamiibuku memberi pelajaran keadilandengan kasih sayangketabahan ibukumengubah sayur murahjadi sedap dengan kebajikanibu mengenalkanku kepada tuhan

Di Tingkat Empat

di tingkat empatkotaku di bawah itukelap kelip lampu beribu di tingkat empatkulihat diriku melayangdi bawah orang-orang ributmencibirkan bibir melihat kepalaku pecahdan wajahku dan jiwaku yang pengecut dari tingkat empatkalau aku melompatdiriku rata oleh aspal dan lalu lintastapi akankah bertemuatau tetap gelisah mencari di tingkat empatkuseret diriku kuajak pergisebelum lampu-lampu di bawahmerayuku lebih jauh.

Juruh

rahasia apa di tabir waktudalam seperti sumur rasa yang dipendamsimpan ragam suara dan kepiluangema gamang dan kemesraan hilang rahasia apa di tabir anganpandang lantai di kabut pagidaun pohon-pohon berair embunaku ingat salju dan ingat jepangingat kuli dan hening birusiapa terdalam dalam angan? siapa dalam sunyisiapa menetes dalam sunyiseperti berguraupasukan belum berhenti perangsiang malam mencari batas …

Juruh Selengkapnya »

Ibarat

kita tambangdipuntir-puntir keringpernah ingin lolos dari semua inikita tambangdibuntuti apibintang nyala berapa detik ibaratnyapendek sekaliharapan hidup tinggi sekali  -“abu     engkau rindu kematianku     lewat api?”- abad-abad lalu puntak kurang pula yang mati kecewa kita terbanglintas jarak sendirimenuju padamibarat bintang dihapus pagi

Ibu

jika kau menagih baktikuitu sudah kupersembahkan ibuwaktu hidup yang tak kubiarkan bekuitulah tanda baktiku kepadamu gula dan teh memang belum kuberikantetapi nilai hidup adakah di dalam nasi semata apakah anak adalah tabunganbisa sesuka hati dipecah kapan sajaapakah kelahiran cuma urusan untung dan labatumpukan budi yang harus dibayar segera jalan mana harus ditempuh anakjuga bukan yang …

Ibu Selengkapnya »

Darman

desa yang tandus ditinggalkannyakota yang ganas mendupak nasibnyatetapi dia lelaki perkasakota kerashatinya pun karangbergulat siang malamDarman kini lelaki perkasamasa remaja belum habis direguknyaTukini setia telanjur jadi bininyakini Darman digantungi lima nyawaDarman yang perkasakota yang culas tidak akan melampus hidupnyatetapi kepada tangis anak-anaknyatidak bisa menulikan telingalelaki, ya Darman kini adalah lelaki perkasaketika ia dijebloskan ke dalam …

Darman Selengkapnya »

Puisi Si Buta

semenjak pagi bangunmataku terbuka sibuk menyiapkan mimpisemenjak matahari bangkit sampai hari inihidupku tidur dan menguap dan bangkit terkejutdi dalam cermin kulihat tangankumasih meraih selimut dansukmaku tak berkakiberjalan tak pernah tiba(di wilayah bebas waktu sukmaku terbanting!) dalam hening kugapai pedang (tapi tak ada!)untuk memporak lensa mataku yang dua biji iniyang selalu terbuka dan menipu beri-berilah aku …

Puisi Si Buta Selengkapnya »

Kepada Nasri dan Adikku yang Lain

biji-biji pilihanku sudah tumbuhkemerdekaanku adalah nasib hidupkujalan-jalan akan sepi sapakamarku akan tinggal kursi meja buku-bukudan mesin ketik tuasisanya hidup yang muram.bila kau masuk kamarku tak usah kau ketukdi sini tak ada yang perlu ditutup-tutupi lagijuga kemiskinan ini juga keasingan initapi setiaku sampai bungkuk akan melahirkanpercakapan panjang lewat tulisan dan puisi bila kau memandang kaca almari …

Kepada Nasri dan Adikku yang Lain Selengkapnya »