Tahun 1996

Terus Terang Saja

apakah aku ini tepung terigu atau gumpalan kapasatau cabe busuk yang merosot harganya sehingga harusditolongatau kayu gelondongan bahan baku plywood kwalitaseksportdari hutan-hutanyang kini botakkarena hph dan gergaji mesin pembangunan keadilanberkemakmurandan kemakmuran berkeadilan siapakah aku inikaki kursikahatau botol kosongatau rakyat lebak yang harus bekerja bakti mencabutirumputhalaman kadipatenkarena tuan pejabat gupermen mau lewatapakah aku ini rakyat yang …

Terus Terang Saja Selengkapnya »

Malam di Kota Khatulistiwa

bulan membayang di pelabuhan yang tak capek-capek.di dermagamesin kapal gemetar mempermainkan sinar lampuwarna-warniberkelok-kelok di kilatan lidah sungai kapuas. sebentarlagi bau ikan segar akan beredar. dari keranjang digudang kapal ke daratandijunjung punggung kuli-kuli ke tenda-tenda pasar.“jangan lewatkan malam dingin sendirian abang…” di sudut-sudut deretan toko-toko tutup. warung-warung gelapmenyediakan kopi pangku, bir dan bau bedak.seorang reserse mabuksepatunya …

Malam di Kota Khatulistiwa Selengkapnya »

Buron

baju laincelana lainpotongan rambut lainbuku yang dibaca lainbahan percakapan lainnama lainidentitas lainekspresi lainmenjadidirisendiriadalah tindakansubversidi negeri inimakaselalu siagapolisitentarahukum dan penjarabagi siapa sajayang menolakmenjadi orang lain 20 september 96

Momok Hiyong

momok hiyong si biang kerokpaling jago bikin ricuhkalau situasi keruhjingkrakjingkrak ia bikin kacau dia ahlinyaakalnya bulus siasatnya ularkejamnya sebanding nerosefasis hitler sefeodal raja kethoprak luar biasa cerdasnyadi luar batas culasnya demokrasi dijadikan bola mainanhak azazi ditafsir semau gue emas doyan hutan doyankursi doyan nyawa doyanluar biasa tanah air digadaikanmasa depan rakyat digelapkandijadikan jaminan utang momok …

Momok Hiyong Selengkapnya »

Puisi di Kamar

sepasang burung dara berkasihantiga meter di depanku seharian tak ada mataharilangit kelabu bayangan tumpukan buku pulpen kertas abu rokok baubantalsetiap hari aku menyimak perubahan cuaca waktu aku masuk ruangan ini lagimencicit burung dara bayi kelahiran tak mungkin dihentikan tak mungkin rindu kenangan kecemasan kuendapkankeraguan ketakutan kupisahkan kugerakkan tanganku kugerakkan pikirankuaku membaca menyalin mendengar aku bergerak …

Puisi di Kamar Selengkapnya »

Para jendral marah-marah

Para jendral marah-marah Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku yang menonton. Istriku kaget. Sebab seorang letnan jendral menyeret-nyeret namaku. Dengan tergopoh-gopoh selimutku ditarik-tariknya. Dengan mata masih lengket aku bertanya: mengapa? Hanya beberapa patah kata keluar dari mulutnya: “Namamu di televisi…” Kalimat itu terus dia ulang seperti otomatis. Aku tidur lagi dan …

Para jendral marah-marah Selengkapnya »

Baju Loak Sobek Pundaknya

siang tadi aku beli bajuharganya murahharganya murah bojokudi pedagang loakdi pedagang loak bojokupundaknya sedikit sobeksedikit sobek bojokubisa dijahit tapinanti akan kubeli benangakan kubeli jarumuntuk menjahit bajumu bojoku untukmu bojokubaju itu untukmu tadi siang kucuci baju itukucuci bojokutapi aku bimbangaku bimbang bojokukutitip ke kawanatau kubawa sendirinanti kalau aku pulangkalau aku pulang bojoku karena sekarang aku burondiburu …

Baju Loak Sobek Pundaknya Selengkapnya »

Ibunda

akhirnya menjengukku jugadatang ke penjaradari kampung ke ibukotamelihat anak tersayangbabak belur dianiaya tentara ibunda akhirnya angkat bicaramenggugat tuan jaksayang menjebloskan anaknyaberbulan-bulandi penjara negaratak jelas pasal kesalahannya kejahatan apakahyang direncanakan oleh anakkuhingga kalian pukuli diasiang malamseperti anjing-anjing liar saja kejahatan macam apakahyang dijalani oleh anakkuhingga kalian main strom seenaknyasampai anakku demamtinggi suhu tubuh badannya durhaka apakahyang …

Ibunda Selengkapnya »

Derita Sudah Naik Seleher

kaulempar aku dalam gelaphingga hidupku menjadi gelap kausiksa aku sangat kerashingga aku makin mengeras kau paksa aku terus menunduktapi keputusan tambah tegak darah sudah kau teteskandari bibirkuluka sudah kau bilurkanke sekujur tubuhkucahaya sudah kau rampasdari biji mataku derita sudah naik seleherkaumenindassampaidi luar batas 17 november 96