Tahun 1991

Lingkungan Kita si Mulut Besar

lingkungan kita si mulut besardihuni lintah-lintahyang kenyang menghisap darah keringat tetanggadan anjing-anjing yang taat beribadahmenyingkiri para pangangguryang mabuk minuman murahan lingkungan kita si mulut besarraksasa yang membisuyang anak-anaknya terus dirampokdan dihibur film-film kartun amerikaperempuannya disetorke mesin-mesin industriyang membayar murah lingkungan kita si mulut besarsakit perut dan terus berakmencret oli dan logambusa dan plastikdan zat-zat pewarna …

Lingkungan Kita si Mulut Besar Selengkapnya »

Jalan Slamet Riyadi Solo

dulu kanan dan kiri jalan inipohon-pohon asam besar melulusaban lebaran dengan teman sekampungjalan berombonganke taman sriwedari nonton gajah banyak yang berubah kiniada holland bakeryada diskotik ada taksigajahnya juga sudah dipindahloteng-loteng arsitektur cinakepangkas jadi gedung tegak lurus hanya kereta api itumasih hitam legamdan terus mengerangmemberi peringatan pak-pak becakyang nekat potong jalan“hei hati haticepat menepi ada polisibanmu …

Jalan Slamet Riyadi Solo Selengkapnya »

Lumut

dalam gang pikiranku menggumamseperti kemarin sajakini los rumah yang dulu kami tempatijadi bangunan berpagar tembok tinggi aku jalan lagimelewati rumah yang pernah disewaRiyanto buruh kawan sekerjakuke mana lagi dia sekeluargarumah itu kini gantian disewakeluarga mbak Nina kampung ini tak memiliki tanah lapang lagitanah-tanah kosong sudah dibeli orang dalam gangsetengah gelap setengah terangaku menemukan perumpamaan:kita ini …

Lumut Selengkapnya »

Tetangga Sebelahku

tetangga sebelahkupintar bikin suling bambudan memainkan banyak lagu tetangga sebelahkukerap pinjam gitarnyanyi sama-sama anaknya kuping sebelahnya rusakdipopor senapan tetangga sebelahkuhidup bagai dalam bentengmelongok-longok selalumembaca bahaya tetangga sebelahkuditeror masa lalu   kalangan-solo, november 1991

Sajak Tapi Sayang

kembang dari pinggir jalankembang yang tumbuh di temboktembok selokankupindah kutanam di halaman depananakku senang bojoku senangtapi sayang bojoku ingin nanam lombokanakku ingin kolam ikantapi sayang setelah sewa rumah habiskami harus pergiterus cari nyewa lagiterus cari nyewa lagi alamat rumah kami punyatapi sayangkami butuh tanah 25 januari 91 – solo

Ceritakanlah Ini Kepada Siapa Pun

panas campur debuterbawa angin ke mana-mana koran hari ini memberitakankedungombo menyusut kekeringankorban pembangunan dammuncul kembali ke permukaantanah-tanah bengkahpohon-pohon besar malang-melintangmakam-makam bangkit dari ingatanmereka yang dulu diam kali inicerita itu siapa akan membantahdasar waduk ini dulu dusun rumah-rumah waktu juga yang menyingkapretorika penguasawalau senjata ditodongkan kepadamuwalau sepatu di atas kepalamudi atas kepalakudi atas kepala kita ceritakanlah …

Ceritakanlah Ini Kepada Siapa Pun Selengkapnya »

Batas Panggung

                          kepada para pelaku ini daerah kekuasaan kamijangan lewati batas itujangan campuri apa yang terjadi di sinikarena kalian penontonkalian adalah orang luarjangan rubah cerita yang telah kami susunjangan belokkan jalan cerita yang telahkami rencanakan karenakalian adalah penontonkalian adalah orang luarkalian harus diam panggung seluas …

Batas Panggung Selengkapnya »

Hujan

mendung hitam tebalmasukkan itu jemurandan bantal-bantalperiksa lagi genting-gentingbarangkali bocornya pindah udara gerahruangan gelaplistrik tak nyalamana anak kita? hujan akan lebat lagi nampaknyasemoga tanpa angin keras burung-burung parkit itumasih berkicau juga dalam kandangnyaburung-burung parkit ituapakah juga pingin punya rumah sendiriseperti kami? kalangan-solo, 25 november 91