rambutku gondrong benakku adalah hutan
keinginan terkurung di dalamnya
di kegelapan aku berteriak: kebebasan!
sepanjang malam semakin ribut
jiwa siapa tak akan letih
menjelang pagi baru tertidur
hari hampir siang, matahari menegurku
hutanku kembali ribut minta dilayani.
inikah dirimu, di depan kaca aku bertanya
kening yang terlipat, mata yang nyalang
rambut yang gondrong dan debar jantungmu
menangkap bau warna putih: uban!
rambut yang panjang mendekati tanah
waktu memberat di tiap helai
berapa lagi bukit-bukit letih dan daki
sebelum sampai di sebuah pantai
melabuhkan lelah sementara
menyongsong badai kembali
11 juni, 1983, sorogenen, surakarta