Puisi di Kamar

sepasang burung dara berkasihan
tiga meter di depanku

seharian tak ada matahari
langit kelabu

bayangan tumpukan buku pulpen kertas abu rokok bau
bantal
setiap hari aku menyimak perubahan cuaca

waktu aku masuk ruangan ini lagi
mencicit burung dara bayi

kelahiran tak mungkin dihentikan tak mungkin

rindu kenangan kecemasan kuendapkan
keraguan ketakutan kupisahkan

kugerakkan tanganku kugerakkan pikiranku
aku membaca menyalin mendengar aku bergerak

tak menyerah aku pada tipudaya bahasamu
yang keruh dan penuh genangan darah
aku menulis aku penulis terus menulis
sekalipun teror mengepung

11 november ’96