Para jendral marah-marah

Para jendral marah-marah

Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi.
Tapi aku tidur. Istriku yang menonton.
Istriku kaget. Sebab seorang letnan jendral menyeret-nyeret namaku.

Dengan tergopoh-gopoh selimutku ditarik-tariknya.
Dengan mata masih lengket aku bertanya: mengapa?
Hanya beberapa patah kata keluar dari mulutnya:
“Namamu di televisi…”
Kalimat itu terus dia ulang seperti otomatis.

Aku tidur lagi dan ketika bangun wajah jendral itu
sudah lenyap dari televisi. Karena acara sudah diganti.
Aku lalu mandi. Aku hanya ganti baju. Celananya tidak.
Aku memang lebih sering ganti baju ketimbang celana.

Setelah menjemur handuk aku ke dapur. Seperti biasa mertuaku yang setahun lalu ditinggal mati suaminya itu, telah meletakkan gelas
berisi teh manis.
Seperti biasanya ia meletakkan di sudut meja kayu panjang itu, dalam posisi yang gampang diambil.

Istriku sudah mandi pula. Ketika berpapasan denganku kembali

kalimat itu meluncur, “namamu di televisi…”
Ternyata istriku jauh lebih cepat mengendus bau kekejaman kekuasaan itu daripada aku.

12 Agustus 1996

4 komentar untuk “Para jendral marah-marah”

Komentar ditutup.