Nyanyian Abang Becak

jika harga minyak mundhak simbok
                      semakin ajeg
berkelahi sama bapak
harga minyak mundhak lombok-lombok
                      akan mundhak
sandang pangan akan mundhak
maka terpaksa tukang-tukang lebon
lintah darat bank plecit tukang kredit
harus dilayani

siapa tidak marah bila kebutuhan hidup semakin
mendesak, seribu lima ratus uang belanja
tertinggi dari bapak untuk simbok, siapa bisa
mencukupi sedangkan kebutuhan hidup semakin
                     mendesak
maka simbok pun mencak-mencak:
“pak-pak anak kita kebacut metu papat lho!”
bayaran sekolahnya anak-anak nunggak lho!”
si Penceng muntah ngising, perutku malah sudah
isi lagi dan suk Selasa Pon ana sumbangan maneh
si Sebloh dadi manten!”

jika BBM kembali menginjak
namun juga masih disebut langkah-langkah
                   kebijaksanaan
maka aku tidak akan lagi memohon pembangunan
                   nasib
kepadamu duh Pangeran duh Gusti
sebab nasib adalah permainan kekuasaan

lampu butuh menyala, menyala butuh minyak
perut butuh kenyang, kenyang butuh diisi
namun bapak cuma abang becak!
maka apabila becak pusaka keluarga pulang
                     tanpa membawa uang
simbok akan kembali mengajak berkelahi bapak.

solo, 1984