Kampung

bila pagi pecah
mulailah sumpah serapah
anak dipisuhi ibunya
suami istri ribut-ribut

bila pagi pecah
mulailah sumpah serapah
kiri kanan ribut
anak-anak menangis
suami istri bertengkar
silih berganti dengan radio
orang-orang bergegas
rebutan sumur umum

lalu gadis-gadis umur belasan
keluar kampung menuju pabrik
pulang petang
bermata kusut keletihan
menjalani hidup tanpa pilihan

dan anak –anak terus lahir berdesakan
tak mengerti rumahnya di pinggir selokan
bermain di muka genangan sampah
di belakang tembok-tembok
menyumpal gang-gang
berputar dalam bayang-bayang
mencari tanah lapang

solo, sorogenen, juli 1988